Karena
perilaku konsumen sangat heterogen maka mereka perlu disegmentasikan yang
relatif mempunyai kebutuhan dan keinginan yang sama. Hal ini dimaksudkan untuk
menghemat biaya, waktu dan energi. Selanjutnya diharapkan program pemasaran yang
dirancang akan mengenai sasaran hingga tujuan pemasaran dapat tercapai berupa
meningkatkan volume penjualan pangsa pasar dan laba penjualan. Hingga
segmentasi pasar dapat didefinisikan sebagai berikut:
Segmentasi
pasar membagi pasar menjadi
segmen-segmen pasar tertentu yang dijadikan sasaran penjualan yang akan dicapai
dengan marketing mix tertentu. (Swastha dan Handoko, 192; 118-119)
Jadi
latar belakang dan alasan dilakukannya segmentasi pasar adalah:
1.
Konsumen
selalu bersifat heterogen, perlu diketahui keinginan dan kebutuhan guna
memenuhi keinginan dan kebutuhan dengan baik.
2.
Pemilihan
target seluruh pasar setelah akan diadakan segmentasi pasar akan berpengaruh
sangat kuat terdapat potensi penjualan dan laba penjualan.
3.
Pemilihan
target pasar yang akan berpengaruh langsung terhadap berat tidaknya pesaing
yang harus dihadapi di dalam segmen yang terpilih.
4.
Strategi
perusahaan yang berusaha untuk memenuhi semua keinginan dan kebutuhan
masyarakat, justru akan berakibat kegagalan pemasaran.
Seorang
pemasar harus mencoba membedakan variabel segmentasi secara tunggal dan secara
kombinasi dengan harapan untuk mendapatkan cara yang bermanfaat guna melihat
struktur pasar.
Pembagian
pasar dalam segmen-segmen pasar sangat dipengaruhi oleh tipe produk, sifat
permintaan, cara penjualan dan motivasi pembelian konsumen. Banyak
variabel-variabel yang dapat dijadikan dasar untuk segmentasi pasar.
Adapun
dasar-dasar yang dapat dipakai untuk segmentasi pasar adalah:
1.
Segmentasi
geografis
Segmentasi geografis
dilakukan dengan cara membagi pasar menjadi unit-unit geografis, misalnya
negara, propinsi, kabupaten, kota
dan sebagainya.
2.
Segmentasi
demografis
Segmentasi ini
memisahkan pasar ke dalam kelompok-kelompok yang berdasarkan pada variabel
demografis, seperti umur, jenis kelamin, besarnya keluarga, siklus, pendapatan,
pendidikan, agama, ras, dan lain-lain.
3.
Segmentasi
psikologis
Pada jenis segmentasi
psikologis, konsumen dibagi dalam beberapa kelompok yang berlainan menurut
kelas, gaya
hidup atau berbagai ciri kepribadian.
4.
Segmentasi
perilaku
Bila perilaku dipakai
sebagai variabel utama dalam segmentasi pasar dalam konsumen, maka para
konsumen dibagi menjadi beberapa kelompok menurut tingkat pengetahuan, sikap,
penggunaan atau tanggapan terhadap produk tertentu.
Dapat
disimpulkan bahwa strategi segmentasi pasar dimulai dengan mengenal perilaku
konsumen, untuk menentukan konsumen mana yang dituju perusahaan sebagai sasaran
penjualan dan menentukan kebutuhan serta keinginan kelompok konsumen tersebut
yang akan dipenuhi dan dipuaskan. Dan dengan segmentasi pasar dapat mengarahkan
atau memusatkan kegiatan pemasarannya untuk mempengaruhi perilaku konsumen dari
segmen pasar yang dituju.
Memahami
perilaku konsumen dari pasar sasaran merupakan tugas dari manajemen pemasaran,
berdasarkan konsep pemasaran. Konsumen sangat beraneka ragam menurut usia,
pendapatan, tingkat pendidikan, pola perpindahan tempat dan selera. Sangat
penting bagi pemasaran untuk membeda-bedakan kelompok konsumen yang memang
berbeda dan mengembangkan produk dan jasa yang disesuaikan dengan kebutuhan
konsumen itu.
Untuk
dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen agar dapat terpuaskan, maka
pihak manajemen harus dapat menafsirkan perilaku konsumen. Hal ini sangat
dibutuhkan oleh manajer untuk dapat memahami mengapa dan bagaimana perilaku
konsumen tersebut, sehingga perusahaan dapat mengembangkan, menentukan harga,
mempromosikan dan mendistribusikan produk secara lebih baik, secara lebih
seimbang sebagai syarat yang penting untuk menguasai pasar. Definisi perilaku
konsumen yang dikemukakan oleh F. Engel, Paul W. Miniard dan Roger D. Blackwel
adalah sebagai berikut:
Perilaku konsumen adalah
kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat mendapatkan dan
menggunakan barang-barang dan jasa-jasa termasuk didalamnya proses pengambilan
keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut. (Engel,
1984;3)
Dari
definisi di atas, ada dua elemen penting dari arti perilaku konsumen yaitu
proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik. Adapun kedua elemen tersebut
melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan dan mempergunakan barang-barang
dan jasa ekonomis.
Perilaku
konsumen pada hakekatnya bukanlah hal yang mudah untuk dipelajari. Karena
perilaku konsumen merupakan salah satu bagian dari perilaku manusia secara
keseluruhan. Walaupun sulit untuk mempelajarinya, perilaku konsumen sangatlah
penting bagi pemasar, karena dengan mengenal dan merumuskan keinginan dan
kebutuhan konsumen maka akan diketahui produk yang bagaimana yang dapat
memuaskan konsumen tersebut. Sebagai bagian dari perilaku manusia secara
keseluruhan, konsumen akan berperilaku bila ada kesenjangan antara keadaan yang
sesungguhnya dengan keadaan yang diharapkan dari kebutuhan dan keinginan yang
ingin dialami.
Teori-teori
dalam perilaku konsumen pada umumnya mempunyai pengetahuan khusus yang dapat
diterapkan pada situasi tertentu.
- Teori
Ekonomi Mikro
Teori ini berpendapat bahwa
untuk membeli merupakan hasil perhitungan ekonomis rasional yang sabar. Pembeli
individual berusaha menggunakan barang-barang yang memberikan kegunaan yang
paling banyak, sesuai dengan selera dan harga relatif. Konsep ini menganut
teori kepuasan marginal (Marginal Utility)
yang menyatakan bahwa konsumen akan meneruskan pembeliannya terhadap suatu dari
yang sama yang telah dikonsumsinya.
- Teori
Psikologis
Teori psikologis
mendasarkan diri pada faktor-faktor psikologis individu yang selalu dipengaruhi
oleh kekuatan-kekuatan lingkungan. Kegiatan individu di waktu sekarang,
merupakan hasil dorongan kebutuhan-kebutuhan dasar yang dipengaruhi oleh
lingkungan dimana ia tinggal dan hidup.
- Teori Sosiologi
Dalam teori sosiologi
atau sering disebut juga psikologi sosial, seperti yang dikemukakan oleh ahli
sosiologi Thorstein Vabley, lebih menitik beratkan pada hubungan dan pengaruh antar
individu yang dikaitkan dengan perilaku mereka. Jadi lebih mengutamakan perilaku
kelompok, bukan perilaku individu. Arti kelompok disini adalah kelompok kecil
seperti keluarga, teman-teman, perkumpulan olahraga dan sebagainya.
- Teori
Antropologis
Teori ini menekankan
perilaku pembelian dari kelompok
masyarakat yang ruang lingkupnya lebih luas. Seperti kebudayaan, sub budaya,
dan kelas-kelas sosial. Dengan meggunakan teori ini manajemen dapat mempelajari
akibat yang dirtimbulkan oleh faktor tersebut terhadap perilaku konsumen,
karena faktor-faktor memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk sikap
konsumen.
Secara
umum faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dapat digolongkan mejadi dua,
yaitu:
- Faktor
Lingkungan Eksternal
Faktor lingkungan
eksternal yang paling mempengaruhi perilaku kosumen adalah lapisan masyarakat
dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Ini berarti bahwa konsumen yang berasal
dari lapisan masyarakat atau lingkungan yang berbeda akan mempunyai penilaian,
kebutuhan, pendapatan, sikap dan selera yang berbeda-beda. Faktor-faktor
eksternal yang mempengaruhi konsumen dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Kebudayaan
Manusia dengan kemampuan
akal budaya telah mengembangkan berbagai macam sistem perilaku demi keperluan
hidupnya. Namun berbagai macam sistem perilaku tadi harus dibiasakan olehnya
dengan belajar sejak lahir. Aspek belajar menyediakan cara hidup manusia dengan
sistem perilaku sebagai “Kebudayaan”. Kebudayaan merupakan simbol dan fakta
yang komplek yang diciptakan oleh manusia diturunkan dari generasi ke generasi
sebagai penentu dan pengatur perilaku manusia dalam masyarakat yang ada.
b. Kebudayaan Khusus
Dalam
suatu masyarakat yang mempunyai jumlah anggota yang besar dan menempati daerah
yang luas, terdapat perbedaan-perbedaan kebudayaan dalam berbagai bidang di
daerah tersebut. Kebudayaan yang khusus ada pada suatu golongan masyarakat yang
berbeda dari kebudayaan masyarakat lain.
Inilah yang disebut sebagai kebudayaan khusus. Dengan demikian maka
perilaku konsumen yang mempunyai kebudayaan ini akan berbeda dengan perilaku
konsumen secara keseluruhan walaupun dalam satu lingkup kebudayaan.
c. Kelas Sosial
Kelas
sosial adalah kelompok yang relatif permanen dan homogen dalam sebuah
masyarakat. Anggota-anggota kelasnya mempunyai nilai, guna hidup, minat dan
perilaku yang serupa. Umumnya tingkat pendidikan dan pekerjaan merupakan indikator
kelas sosial yang paling akurat. Kelas sosial seseorang menunjukkan pola hidup
orang yang bersangkutan.
Orang
yang berasal dari sub-budaya yang sama, kelas sosial yang sama dan bahkan
pekerjaan yang sama dapat mempunyai gaya
hidup yang berbeda. Banyak orang yang dari kelas sosial yang lebih rendah
berusaha meniru anggota kelas yang lebih tinggi dengan membeli barang dan jasa
yang serupa dan perilaku pembelian mereka dipengaruhi persepsi mereka akan
kelas sosial. Jadi sampai sejauh mana pemasaran mampu mempromosikan produknya
sehingga dirasakan bisa membantu kegiatan konsumen untuk mencapai kelas sosial
yang lebih tinggi.
Pada
umumnya, masyarakat kita dapat dikelompokkan ke dalam tiga golongan masyarakat
sebagai berikut:
-
Golongan
atas, yang termasuk di dalam golongan
ini antara lain: pejabat tinggi,
pengusaha kaya.
-
Golongan
menengah, yang termasuk di dalam golongan ini antara lain: pengusaha menengah,
karyawan instansi pemerintah.
-
Golongan
Rendah, yang termasuk di dalamnya antara lain: pengusaha kecil, buruh, tukang
dan pedagang kecil.
Pembagian
masyarakat menjadi tiga golongan ini sangat relatif tergantung kepada tingkat
pendapatan, jenis usaha, macam perusahaan dan lokasi tempat tinggal.
d. Keluarga
Keluarga
digambarkan untuk berbagai macam bentuk rumah tangga. Yang dimaksud dalam
bentuk rumah tangga yaitu “Keluarga Inti”, meliputi Ayah, Ibu, dan anak-anak
yang hidup bersama, serta “Keluarga Besar”, yaitu keluarga inti ditambah dengan
orang-orang yang mempunyai ikatan saudara dengan keluarga tersebut, seperti
kakak, nenek, paman, bibi, dan menantu. Dalam pasar konsumen, keluargalah yang
paling banyak membeli dan mengkonsumsi produk. Pembelian tiap anggota keluarga
berbeda-beda dan bermacam-macam tergantung dari kebutuhan dan selera dari
masing-masing anggota keluarga. Jadi pihak manajer perusahaan dalam
mengidentifikasikan perilaku harus dapat mengetahui siapa yang menjadi
inisiatif, penentu, pembeli atau siapa yang mempengaruhi suatu keputusan dalam
membeli.
e. Kelompok Referensi
Perilaku
seseorang sangat dipengaruhi oleh berbagai kelompok. Sebuah kelompok referensi
bagi seseorang adalah kelompok-kelompok yang memberikan pengaruh langsung atau
tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang. Kelompok yang memberikan
pengaruh langsung kepada seseorang disebut kelompok keanggotaan, yakni dimana
seseorang menjadi anggotanya dan saling berinteraksi. Orang juga mempengaruhi
kelompok-kelompok dimana ia bukan merupakan anggotanya. Kelompok yang ingin
menjadi anggotanya disebut kelompok aspirasi.
f. Demografi
Demografi
digambarkan untuk menggambarkan suatu populasi kedalam istilah-istilah seperti
ukuran, struktur dan distribusi. Ukuran adalah untuk menggambarkan angka atau
nomor dalam individu dalam suatu populasi. Struktur sendiri menggambarkan
populasi kedalam istilah-istilah umur, pendapatan, pendidikan dan pekerjaan.
Sedangkan distribusi dari suatu populasi menggambarkan lokasi dan
individu-individu tersebut kedalam suatu istilah geografi suatu daerah dan
desa, daerah perkotaan atau lokasi pinggiran kota. Masing-masing dari faktor tersebut
mempengaruhi perilaku konsumen dan menyumbang secara keseluruhan dari suatu
permintaan untuk bermacam-macam barang atau jasa.
- Faktor
Lingkungan Internal (Mikro)
Faktor-faktor psikologis
yang berasal dari proses intern individu sangat berpengaruh terhadap perilaku
pembelian konsumen. Dalam memberikan pengetahuan yang sangat penting tentang
alasan-alasan yang menyangkut perilaku konsumen, maka teori-teori psikologis
yang menjadi dasar perilaku konsumen adalah sebagai berikut:
a. Motivasi
Yang dimaksud dengan
motivasi adalah keadaan dalam diri pribadi seseorang yang mendorong keinginan
individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Motif
yang ada pada diri seseorang akan mengakibatkan suatu perilaku yang diarahkan
mencapai sasaran kepuasan. Jadi secara definitif dapat dikatakan bahwa motivasi
adalah suatu dorongan kebutuhan dan keinginan individu yang diarahkan pada
tujuan untuk memperoleh kepuasan.
b. Pengamatan
Adalah suatu proses
dengan nama manusia atau konsumen menyadari dan menginterprestasikan aspek
lingkungan intern dan ekstern., maka rangsangan tersebut mempunyai pengaruh
yang besar terhadap pengamatan seseorang dalam tingkah laku, pengalaman ini
diperoleh dari suatu kejadian di masa lampau yang dapat dipelajari. Hasil dari
pengalaman individu ini akan membentuk suatu pandangan tertentu bagi individu
tersebut dan pengalaman antara individu yang satu dengan yang lain akan berbeda
sehingga dalam perilaku akan berbeda pula. Dalam penelitian yang dilakukan konsumen,
merupakan proses belajar dimana hal ini merupakan bagian dari hidup konsumen.
Proses belajar dalam pembelian terjadi apabila konsumen ingin menanggapi dan
memperoleh kepuasan atau sebaliknya. Tanggapan konsumen sangat dipengaruhi oleh
pengalaman lampau dan apabila konsumen mendapatkan suatu kepuasan, maka
tanggapan positif terhadap suatu produk dan adanya kecenderungan untuk
mengadakan suatu pembelian kembali atas produk yang sama apabila dibutuhkan
selama produk-produk tersebut memberikan kepuasan dan kombinasi petunjuk tidak
berubah. Demikian sebaliknya, apabila kepuasan dari produk yang dibelinya tidak
diperolehnya, maka kebiasaan akan membeli produk tersebut akan berkurang atau
mempunyai tanggapan yang negatif terhadap produk tersebut.
c. Sikap
Sikap (attitude) seseorang adalah prodeposisi
(keadaan mudah terpengaruh) dalam memberikan tanggapan terhadap rangsangan
lingkungan, hal ini juga merupakan hasil dari proses belajar yang selalu
berhubungan dengan obyek tertentu yang memberikan suatu penilaian berupa
persetujuan yang berarti menerima atau menolak obyek tersebut, sehingga apabila
kita kaitkan obyek tersebut sebagai suatu produk, maka akan terjadi suatu
proses penerimaan atau penolakan produk tersebut. Dalam penilaian untuk
menentukan diterima atau ditolak suatu produk, maka akan dipengaruhi oleh
keadaan jiwa (dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan dari kebudayaan, sebagainya)
dan keadaan berfikir yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan seseorang. Meurut
William G. Nickles pengertian sikap adalah sebagai berikut:
Sikap adalah suatu kecenderungan
yang dipelajari untuk bereaksi terhadap penawaran produk dalam masalah yang
baik ataupun kurang baik secara konsisten. (Kotler, 1993;234)
Sikap adalah penting
dalam proses pembuatan keputusan pemasaran. Ada kecenderungan kuat untuk meanggapi bahwa
sikap merupakan faktor yang paling tepat untuk meramalkan perilaku dimasa yang
akan datang. Hubungan antara sikap dengan perilaku ini dapat membantu
meramalkan permintaan produk dan mengembangkan program pemasaran. Sikap itu
merupakan organisasi diri, unsur-unsur kognitif, emosional, dan momen-momen
kemauan yang khusus dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lampau,
sehingga sifatnya sangat dinamis dan memberikan pengarahan pada setiap tingkah
laku. Sikap ini juga dipengaruhi oleh sukses dan kegagalan di masa lampau
dimana sukses dan kegagalan ini sedikit banyak mengubah nasib menjadi tingkah
laku yang hibituil terhadap suatu situasi.
Sikap mempunyai tiga
komponen, yaitu:
i.
komponen
kognitif
Komponen ini berhubungan
dengan kesadaran, dan pengetahuan terhadap suatu objek tertentu. Komponen ini
kadang-kadang disebut komponen kepercayaan dan dinyatakan melalui
pernyataan-pernyataan seperti “saya percaya produk X atau saya tahu produk Y”.
Kepercayaan merupakan bagian dari proses belajar. Kepercayaan yang satu
berintegrasi dengan kepercayaan yang lainnya dan bersama-sama membentuk sikap
terhadap obyek yang sama. Komponen ini penting karena keputusan pemasaran
selalu meminta informasi tentang ciri-ciri produk, iklan, harga produk,
kemudahan produk itu diperoleh dan lain-lain. Identifikasi karakteristik
kognitif terhadap keinginan ideal konsumen mengenai atribut-atribut kunci yang
paling penting merupakan petunjuk dasar untuk pengembangan pasar.
ii. komponen efektif
Komponen ini berhubungan
dengan kesukaan dan pilihan terhadap suatu obyek tertentu. Komponen ini
kadang-kadang komponen perasaan yang dinyatakan melalui pernyataan-pernyataan
seperti “suka produk X” atau “produk Y sangat jelek”. Perasaan emosi ini juga
bersifat situasional dan mengevaluasi kepercayaan, individu selain dipengaruhi
oleh variasi individualitas yang unik,juga dipengaruhi oleh nilai-nilai
kebudayaan. Komponen ini penting, karena harus mengetahui perasaan-perasaan
positif dan negatif dari konsumen serta pilihan-pilihan dari pembeli sehubungan
dengan program-program pemasaran yang dilaksanakan oleh perusahaan.
iii. komponen tingkah laku
Komponen ini berhubungan
dengan maksud untuk membeli dan perbuatan sungguh-sungguh membeli. Maksud
membeli merupakan tahapan sebelum menuju kepada tahapan sungguh-sungguh
membeli, maksud membeli ini merupakan petunjuk tingkah laku membeli di masa
datang. Tingkah laku berhubungan dengan apa yang telah dilakukan atau sedang
dilakukan oleh konsumen. Informasi yang dicari adalah apa yang dibeli, berapa
harganya, dimana membelinya, kapan membelinya dan keadaan lingkungannya.
d. Kepribadian
Setiap orang mempunyai
kepribadian yang berbeda-beda yang akan mempengaruhi perilaku pembeliannya.
Kepribadian menurut Philip Kotler sebagai berikut:
“Kepribadian adalah pola sifat
individu yang dapat menentukan tanggapan untuk bertingkah laku. (Swastha dan
Irawan, 1986; 122)”
Kepribadian seseorang
biasanya dinyatakan seperti rasa percaya diri, dominasi otonomi, menghargai
orang lain, kemampuan sosialisasi, kemampuan mempertahankan diri, serta
kemampuan menyesuaikan diri. Kepribadian dapat menjadi variabel yang sangat
bermanfaat dalam menganalisa dan korelasi yang kuat terdapat antara jenis
kepribadian tertentu dengan berbagai pilihan produk atau merk.
Kemampuan untuk membeli
yang diambil oleh pembeli, sebenarnya merupakan kumpulan dari sejumlah
keputusan. Setiap keputusan membeli mempunyai suatu struktur sebanyak tujuh
komponen.
a. Keputusan tentang jenis barang
Konsumen dapat mengambil
keputusan untuk membeli suatu produk.
b. Keputusan tentang bentuk produk
Konsumen dapat mengambil
keputusan untuk membeli produk tertentu. Keputusan tersebut menyangkut pula
ukuran, mutu, penampilan, warna dan sebagainya.
c. Keputusan tentang merk
Konsumen harus mengambil
keputusan tentang merk mana yang akan diambil dan dibeli. Setiap merk mempunyai
keunggulan dan perbedaan tersendiri
d. Keputusan tentang penjual
Konsumen harus mengambil
keputusan dimana produk tersebut dapat
dibeli dan dimana konsumen tersebut akan membeli.
e. Keputusan tentang jumlah produk
Konsumen harus mengambil
keputusan tentang seberapa banyak produk tersebut akan dibelinya suatu saat.
f. Keputusan tentang waktu pembelian
Konsumen harus mengambil
keputusan kapan harus membeli suatu produk
g. Keputusan tentang cara pembelian
Konsumen
harus mengambil keputusan tentang metode atau cara pembayaran produk yang dibeli,
apakah secara tunai atau secara kredit.
Perilaku konsumen ini
akan meentukan proses pengambilan keputusan dalam pembelian mereka. Proses
keputusan membeli ini terdiri dari lima
tahap, yaitu: pengenalan masalah (problem
recognition), pencarian informasi (information
research), evaluasi alternatif (evolution
of alternatives), keputusan pembelian (purchase
decision) dan perilaku purna pembelian (post
purchase behavior).