Menurut
Gibson (1985:67) kepuasan kerja ialah sikap seseorang terhadap pekerjaan
mereka,yang berpangkal dari aspek kerja, yaitu upah (gaji), kesempatanpromosi
serta faktor lingkungan kerja seperti gaya penyelia,kebijakan dan
prosedur,kondisi kerja.
Gezels dan Guba(dalam Panggabean,2002:129)
mengungkapkan bahwa“Kepuasan adalah fungsi dari tingkat keserasian antara
apayang diharapkan dengan apa yang dapat diperoleh atau antarakebutuhan dan
pengharapan”.
Sementara itu Siagian (2005:126), mendefinisikan kepuasan
kerja sebagai sikapumum seseorang terhadap pekerjaannya. Artinya secara umum
dapatdirumuskan bahwa seseorang yang memiliki rasa puas terhadappekerjaannya
akan mempunyai sikap yang positif terhadap organisasidimana ia berkarya.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut diatas,
dapatdikemukakan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan pegawai yangtimbul
tentang sesuatu yang menyenangkan atau tidaknya pekerjaan,berkaitan dengan
tingkat keserasian antara harapan dengan apa yang diperoleh.
Berkaitan dengan pemahaman tentang konsep kepuasan
kerja Brayfield dan Rothe (dalam Panggabean,2002:128) beranggapan bahwa ”Kepuasan
kerja dapat diduga dari sikap seseorang terhadappekerjaannya”.
Kemudian Moorse (dalam Panggabean,2002:128)mengemukakan
bahwa:“Pada dasarnya kepuasan kerja tergantung pada apa yangdiinginkan
seseorang dari pekerjaannya dan apa yang merekaperoleh. Orang yang paling tidak
marasa puas adalah merekayang mempunyai keinginan paling banyak, namun
mendapatyang paling sedikit. Sedangkan yang paling merasa puasadalah orang yang
menginginkan banyak danmendapatkannya.”
Selanjutnya menurut Siagian (2005:126)dikatakan
bahwa terdapat palingsedikit empat faktor yang turut berperan dalam kepuasan
kerja ,yaitu :
1.
Pekerjaan yang
menantang.
2.
Penerapan
sistem penghargaan yang adil.
3.
Kondisi yang
sifatnya mendukung.
4.
Sifat rekan
sekerja.
Kepuasankerja nampak dalam hasil pekerjaan. Alasan
menyatakan kepuasankerja adalah :
1.
Nilai : bahwa
waktu yang dipergunakan pekerjaan hendaknya dapat menimbulkan kesenangan,
kegembiraan, dan kebahagiaan.
2.
Kesehatan jiwa
: pekerjaan adalah faktor yang dapat menimbulkan tekanan psikologis.
3.
Kesehatan
jasmaniah : terdapat hubungan antara pekerjaan dengan umur, karena pekerja yang
menyenangi pekerjaan akan memiliki umur panjang.
Menurut Harold E.Burt
(2012:212) dikatakan bahwa terdapat empat factor yang menimbulkan kepuasan
kerja, yaitu :
1.
Factor hubungan antar karyawan, yaitu hubugan
antara manajer dengan karyawan, factor
fisik dan kondisi kerja, hubungan social diantara karyawan, sugesti dari teman
sekerja.
2.
Factor individual, hubungan dengan sikap orang
terhadap pekerjaan, usia orang dengan pekerjaan, jenis kelamin.
3.
Factor keadaan keluarga karyawan.
4.
Rekreasi, meliputi pendidikan.
Seorang ahli bernama Alwi (2001:118) menyatakan
berbagai bentuk kepuasan antara lain :
1.
Kepuasan
dengan kompensasi yang diterima.
2.
Kepuasan
dengan tugas.
3.
Kepuasan
dengan penataan kerja.
4.
Kepuasan
dengan peluang kedepan melalui jabatan.
Blum (dalam As’ad, 2003:114) yang mengemukakan
faktor-faktor
yang mempengaruhi kepuasan
kerja meliputi:
1.
Faktor
individual, seperti usia, kesehatan, jenis kelamin.
2.
Faktor Sosial,
seperti interaksi dan hubungan dengan orang lain.
3.
Faktor dalam
pekerjaan, seperti upah, kondisi kerja dan lain.
Pendapat lain dikemukakan oleh Gilmer (dalam As’ad, 2003:114)
bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasankerja adalah:
1.
Faktor
kesempatan untuk maju.
2.
Faktor
keamanan kerja.
3.
Faktor Gaji.
4.
Faktor
Perusahaan dan Manajemen.
5.
Faktor
Pengawasan.
6.
Faktor
instrinsik dari pekerjaan.
7.
Faktor kondisi
kerja.
8.
Faktor Sosial
dan komunikasi.
9.
Faktor
fasilitas.
As’ad (2003:115) menyebutkan faktor-faktor yang
dapatmempengaruhi kepuasan kerja pegawai yaitu:
1.
Faktor
psikologik, merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan yang
meliputi minat, ketentraman dalam kerja, sikap terhadap kerja, bakat dan
ketrampilan.
2.
Faktor sosial,
merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial baik antara sesama
karyawan, dengan atasannya, maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya.
3.
Faktor fisik,
merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan
kondisi fisik karyawan,meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja dan
waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan, suhu penerangan,
pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan, umur dan sebagainya.
4.
Faktor
finansial, merupakan faktor yang berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan
karyawan yang meliputi sistem dan besarnya gaji, jaminan sosial, macam-macam
tunjangan, fasilitas yang diberikan, promosi dan sebagainya.
Robbins (2001:102) menyebutkan faktor-faktor yang
dapatmenentukan kepuasan kerja pegawai antara lain :
1. Kerja yang secara mental menantang.
Pegawai cenderung lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan
yangmemberi kesempatan untuk menggunakan keterampilan,kemampuan yang menawarkan
beragam tugas, kebebasan danumpan balik.
2. Ganjaran yang pantas.
Para pegawai menginginkan gaji dan kebijakan yang
merekapersepsikan sebagai adil, tidak meragukan dan segaris denganpenghargaan
mereka. Gaji dilihat sebagai adil apabiladidasarkan pada tuntutan pekerjaan,
tingkat keterampilanindividu, dan standar penggajian, komunitas. Mengenai
upahini tidak semua pegawai akan mengejar gaji ini, karenabanyak pegawai yang
bersedia menerima gaji yang lebihkecil untuk bekerja dilokasi yang lebih
diinginkan.
3. Kondisi kerja yang mendukung.
Pegawai yang peduli kepada lingkungan kerja baik
untukkenyamanan pribadi atau untuk memudahkan mengerjakantugas. Pegawai akan
lebih menyukai keadaan fisik sekitaryang tidak berbahaya atau merepotkan,
temperatur, cahaya,keributan dan faktor pendukung lainnya.
4. Rekan sekerja yang mendukung.
Pegawai dalam bekerja tidak hanya sekedar
mendapatkan gajiatau prestasi kerja, tetapi juga mengisi kebutuhan
akaninteraksi sosial. Oleh karena itu apabila memiliki rekan kerjayang ramah
dan perilaku atasan yang baik akan mendukungkepuasan kerja pegawai. Pada
umumnya kepuasan kerjameningkat apabila penyelia atau atasan ramah dan
dapatmemahami, memberikan pujian untuk kinerja yang baik,mendengarkan pendapat
pegawai dan menunjukkan minatpribadi kepada pegawai.
5. Kesesuaian antara kepribadian dengan pekerjaan.
Kecocokan yang tinggi antara kepribadian seorang
pegawaidengan pekerjaan akan menghasilkan kepuasan kerja.Pegawai yang tipe
kepribadiannya sama dan sebangundengan pekerjaan yang dipilih, memiliki bakat
dankemampuan akan lebih besar untuk memungkinkan berhasildalam pekerjaan,
sukses, mempunyai probabilitas yang besaruntuk mencapai kepuasan kerja mereka.
6. Keturunan atau gen.
Pegawai akan mantap secara konsisten sepanjang
waktu,bahkan apabila ada pergantian pimpinan maka tidak akanterjadi masalah,
karena untuk pandangan tentang berbagai halyang positif, negatif dan hidup itu
dipengaruhi oleh faktorketurunan atau genetika.
Menurut Mangkunegara (2000:79) ada 2 faktor yang
mempengaruhi kepuasankerja yaitu:
1.
Faktor
karyawan, yaitu kecerdasan (IQ), kecakapan khusus, umur, jenis kelamin, kondisi
fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa kerja, kepribadian, emosi, cara
berpikir, persepsi dan sikap kerja.
2.
Faktor
pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan, struktur organisasi, pangkat (golongan),
kedudukan, mutu pengawasan, jaminan finansial, kesempatan promosi jabatan,
interaksi sosial, dan hubungan kerja.
Menurut
Ghiseli dan Brown (2012:212) ada 4 faktor yang menimbulkan kepuasan kerja,
yaitu:
1.
Kedudukan, yaitu oranng beranggapan bahwa seseorang
yang bekerja pada pekerjaan yang lebih tinggi akan merasa lebih puas dari pada
yang berkedudukan lebih rendah.
2.
Pangkat, yaitu pada pekeraan yang mendasar pada
perbedaan tingkat golongan, sehingga pekerjaan tersebut memberikan kedudukan
tertentu pada orang yang melakukannya. Jika ada kenaikan upah, maka ada yang
beranggapan sebagai kenaikan pangkat.
3.
Umur, yaitu dinyatakan adanya hubungan antar
kepuasan kerja dengan umur karyawan. Umur 25 tahun sampai 34 tahun dan umur 40
sampai 45 tahun adalah umur yang biasa menimbulkan perasaan kurang puas
terhadap pekerjaannya.
4.
Mutu pengawasan, yaitu kepuasan karyawan dapat
ditingkatkan melalui perhatian dan hubungan yang baik dari pimpinan dan bawahan
sehingga karyawan akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian yang terpenting
dari organisasi kerja tersebut.